Abdul Mu’ti Jelaskan Proses Turunnya Kitab Suci dalam Peringatan Nuzulul Quran
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menjelaskan proses turunnya Al-Qur’an yang dikenal sebagai peristiwa Nuzulul Quran. Menurutnya, peristiwa tersebut tidak terjadi dalam satu tahap, melainkan melalui beberapa proses yang berlangsung secara bertahap.
Penjelasan itu disampaikan Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema Nuzulul Quran yang disiarkan tvMu, Jumat (6/3).
Ia menjelaskan bahwa secara bahasa Nuzulul Quran berarti turunnya Al-Qur’an. Di Indonesia, peristiwa tersebut tidak hanya dipahami sebagai bagian dari sejarah Islam, tetapi juga telah menjadi tradisi yang diperingati secara luas oleh masyarakat.
“Nuzulul Qur’an itu secara bahasa artinya turunnya Al-Qur’an yang di Indonesia itu juga telah menjadi tradisi yang diperingati oleh masyarakat di seluruh penjuru negeri,” ujarnya.
Bahkan, kata Abdul Mu’ti, peringatan Nuzulul Quran telah menjadi agenda kenegaraan yang dilakukan sejak masa awal kemerdekaan Indonesia.
“Nuzulul Qur’an itu diperingati di istana yang biasanya ditandai dengan pemberian ceramah untuk menggali dan kemudian juga menjelaskan dan mengajak masyarakat bangsa Indonesia untuk senantiasa mengamalkan Al-Qur’an,” katanya.
Dalam penjelasannya, Abdul Mu’ti menyebut bahwa turunnya Al-Qur’an terjadi melalui tiga proses utama.
“Nuzulul Qur’an itu ada tiga proses atau ada tiga fase,” sebutnya.
Proses pertama adalah turunnya Al-Qur’an secara sekaligus dari Sidratul Muntaha ke langit dunia. Peristiwa ini, menurut sebagian ahli tafsir, berkaitan dengan malam kemuliaan atau Lailatul Qadar.
“Turunnya Al-Qur’an yang pertama ini secara sekaligus, Al-Qur’an turun secara sekaligus dengan susunan seperti yang kita miliki sekarang ini,” jelasnya.
Tahap kedua adalah turunnya wahyu dari langit dunia kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur. Proses ini berbeda dengan tahap pertama yang terjadi sekaligus.
“Kalau proses pertama itu sekaligus, kalau proses kedua ini berangsur-angsur dan turunnya tidak berurutan seperti Al-Qur’an yang kita punya sekarang ini,” ujarnya.
Ia mencontohkan bahwa ayat pertama yang diturunkan adalah Surat Al-Alaq, meskipun dalam susunan mushaf Al-Qur’an surat tersebut berada pada urutan ke-96.
“Kalau kita membaca di dalam sejarah, ayat yang pertama kali turun adalah Surat Al-Alaq,” katanya.
Menurut Abdul Mu’ti, proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
“Sehingga proses turunnya ayat ini secara berangsur-angsur selama kurun waktu ada yang menyebut gampangnya itu 23 tahun,” jelasnya.
Proses tersebut juga terbagi dalam dua periode besar, yakni periode Makkiyah dan Madaniyah.
“Periode Makkiyah adalah periode turunnya Al-Qur’an sebelum Rasulullah Muhammad hijrah ke Madinah, sedangkan periode Madaniyah adalah periode ketika Rasulullah sudah hijrah ke Madinah,” terangnya.
Adapun proses ketiga adalah penyampaian wahyu oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat setelah menerima wahyu dari Allah SWT.
“Turunnya ayat yang secara berangsur-angsur itu kemudian diikuti dengan proses dimana Rasulullah menyampaikan wahyu yang diterima itu kepada para sahabat,” ujarnya.
Abdul Mu’ti berharap pemahaman tentang proses turunnya Al-Qur’an dapat memperkuat kesadaran umat Islam untuk lebih menghayati dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.