Abdul Mu’ti: Puasa Ramadan Bukan Sekadar Rutinitas, Tapi Proses Membentuk Manusia Bertakwa

Abdul Mu’ti: Puasa Ramadan Bukan Sekadar Rutinitas, Tapi Proses Membentuk Manusia Bertakwa
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema “Puasa sebagai Ibadah”, yang tayang di tvMu pada awal Ramadan 1447 Hijriah, Rabu (18/2).

TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadan bukan hanya rutinitas tahunan umat Islam, melainkan proses berkelanjutan untuk membentuk pribadi yang bertakwa.

Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema “Puasa sebagai Ibadah”, yang tayang di tvMu pada awal Ramadan 1447 Hijriah, Rabu (18/2).

Dalam pernyataannya, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa tujuan puasa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an adalah membentuk manusia bertakwa, dan hal itu tidak dapat dicapai secara instan hanya dalam satu kali Ramadan.

“Puasa yang sebagaimana kita pahami disyariatkan untuk membentuk manusia yang bertakwa, tidaklah dapat dicapai hanya dengan satu tahun berpuasa,” kata Abdul Mu’ti.

Ia menekankan bahwa pembentukan manusia bertakwa merupakan proses panjang yang dilakukan secara terus-menerus, sehingga umat Islam kembali disyariatkan menjalankan puasa setiap tahun.

“Manusia bertakwa itu dapat terbentuk melalui proses yang sangat panjang, proses berkelanjutan, yang karenanya setiap tahun kita sekalian umat Islam disyariatkan untuk menunaikan puasa di bulan Ramadan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa puasa dalam Islam memiliki empat dimensi penting yang perlu dipahami oleh umat Islam agar ibadah yang dilakukan tidak sekadar formalitas.

“Puasa sebagai salah satu ibadah di dalam Islam memiliki paling tidak empat dimensi. Dimensi yang pertama adalah dasar dari pelaksanaan ibadah puasa itu sendiri. Yang kedua, niat di dalam kita berpuasa. Yang ketiga, bagaimana kita menunaikan ibadah puasa. Dan yang keempat, apa hikmah di balik kita menunaikan ibadah puasa,” jelasnya.

Menurut Abdul Mu’ti, dasar pelaksanaan puasa salah satunya merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Selain itu, ia menegaskan pentingnya niat yang ikhlas karena Allah agar ibadah puasa diterima.

“Ibadah itu akan diterima kalau kita niatkan karena mengharapkan ritu Allah dan ditunaikan sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah,” katanya.

Ia menambahkan bahwa puasa juga memiliki kaifiyah atau tata cara yang harus dijalankan sesuai syariat, sebagaimana yang disunahkan Rasulullah SAW.

“Karena itu maka ibadah puasa itu memiliki kaifiyah, memiliki tata cara yang sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Allah dan disunahkan oleh Rasulullah,” lanjutnya.

Namun, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa puasa tidak berhenti pada aktivitas menahan lapar dan haus semata. Menurutnya, setiap ibadah memiliki hikmah yang menjadi nilai utama dari pelaksanaan ibadah itu sendiri.

“Tapi tentu puasa itu tidak berhenti pada pelaksanaan ibadah puasa itu sendiri. Setiap ibadah memiliki hikmah, memiliki makna, memiliki nilai-nilai yang kita raih,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa hikmah utama puasa adalah menjadikan manusia bertakwa. Karena itu, puasa bukan tujuan akhir, melainkan sarana pembinaan spiritual umat Islam.

“Nah di antara hikmah puasa adalah agar kita menjadi manusia yang bertakwa. Karena itu maka puasa bukanlah tujuan. Puasa adalah sarana yang menuntun manusia, membimbing dan membentuk manusia menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa,” katanya.

Abdul Mu’ti juga menyebut bahwa takwa merupakan kualifikasi utama yang menentukan kemuliaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

“Bertakwa itu adalah kualifikasi yang menunjukkan kemuliaan manusia dan menunjukkan derajat dalam kehidupan mereka di dunia dan di akhirat,” ucapnya.

Di akhir penyampaiannya, Abdul Mu’ti berharap puasa Ramadan yang dijalankan umat Islam dapat diterima oleh Allah SWT, sekaligus menjadi langkah awal menuju pembentukan karakter spiritual yang lebih baik.

“Mudah-mudahan puasa kita pada hari ini diterima oleh Allah SWT,” tutupnya.