Abdul Mu’ti Ungkap Rahasia Agar Puasa Terasa Ringan dan Diterima Allah
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keikhlasan menjadi kunci utama agar ibadah puasa Ramadan dapat dijalankan dengan ringan dan diterima oleh Allah SWT.
Hal tersebut disampaikannya dalam program Jendela Ramadan bertema “Keikhlasan Puasa” yang disiarkan di tvMu, Sabtu (21/2).
Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa setiap ibadah dalam Islam mensyaratkan keikhlasan sebagai fondasi utama. Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya beribadah secara tulus karena Allah.
“Kalau kita melaksanakan ibadah, salah satu syaratnya adalah ikhlas. Di dalam Al-Quran disebutkan, wa’ma umiru illa liya’butullaha muhlisina lahuddin,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia kemudian mengaitkan keikhlasan tersebut dengan perintah puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, khususnya pada redaksi Qutiba alaikumusiam.
“Qutiba itu dalam bahasa Arab adalah bentuk mabni majhul atau kalimat pasif yang mengandung pengertian bahwa puasa itu sudah sesuatu yang prescribed. Sesuatu yang kita diperintahkan untuk melaksanakannya sehingga tidak ada alasan untuk kita ini melakukan tawar-menawar dalam melaksanakan syariat itu,” jelasnya.
Menurutnya, bentuk pasif dalam kata Qutiba mengandung pesan agar umat Islam menerima perintah puasa dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan.
“Dalam istilah lain mungkin bisa dikatakan dengan redaksi Qutiba itu, yaudah just do it, kerjakan saja,” katanya.
Abdul Mu’ti juga menekankan bahwa kewajiban puasa tidak hanya berlaku bagi umat Islam saat ini, melainkan juga bagi umat-umat terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat tersebut.
“Kamu ikhlas saja, tunaikan saja, tidak usah merasa berat, karena puasa itu tidak hanya diwajibkan kepada kamu, tapi juga kepada umat sebelum kamu. Karena itu jangan merasa berat menunaikannya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa cara pandang atau mindset sangat menentukan bagaimana seseorang menjalani ibadah puasa.
“Karena itu maka ketika kita diperintahkan berpuasa, cara kita supaya ibadah kita diterima dan supaya ibadah kita terasa ringan adalah ikhlas menunaikannya,” tegasnya.
Dalam penjelasannya, Abdul Mu’ti juga mengutip hadis tentang dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa.
“Lissoimi Farhatani. Orang yang berpuasa itu dia punya dua kegembiraan. Pertama dia bergembira ketika dia berbuka dan yang kedua dia bergembira ketika dia nanti di akhirat di surga dia bertemu Allah melihat wajah Allah secara langsung,” katanya.
Ia menyebut bahwa keikhlasan dan kegembiraan memiliki dimensi psikologis yang kuat dalam membantu seseorang menjalankan ibadah dengan penuh semangat.
“Keikhlasan, sukacita, kegembiraan itu menurut kajian berbagai bidang ilmu termasuk dalamnya psikologi adalah kunci untuk kita ini bisa melaksanakan sesuatu dengan ringan, dengan penuh semangat,” ujarnya.
Menurut Abdul Mu’ti, dengan niat yang lurus karena Allah, rasa lelah dalam berpuasa dapat berubah menjadi ladang pahala.
“Kalau kita ikhlas karena Allah tidak hanya ibadah kita diterima oleh Allah tapi juga kita menunaikannya dengan penuh sukacita, dengan gembira karena kita mengharapkan hanya ritu Allah semata-mata,” tuturnya.
Ia pun mengajak umat Islam untuk tidak merasa berat dalam menjalankan puasa dan menghadapi ibadah tersebut dengan sikap positif.
“Karena itu maka kita semuanya janganlah pernah merasa berat menunaikan ibadah puasa, just do it, kerjakan saja, hadapi saja,” pungkas Abdul Mu’ti.
Di akhir tausiyahnya, ia berharap seluruh umat Islam dapat menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan dan memperoleh ridha Allah SWT.
“Semoga puasa kita diterima oleh Allah swt. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucapnya.