Buya Anwar Abbas Minta Pemerintah Cepat Padamkan Polemik Politik Sebelum Picu Krisis

Buya Anwar Abbas Minta Pemerintah Cepat Padamkan Polemik Politik Sebelum Picu Krisis
Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas. Foto: Tangkap layar YouTube tvMu Channel.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Buya Anwar Abbas, mendesak pemerintah untuk bergerak cepat menyelesaikan berbagai pusaran masalah politik yang saat ini tengah bergulir. Penanganan yang lamban dinilai berisiko menciptakan krisis multidimensi yang merugikan rakyat, baik secara sosial, ekonomi, maupun politik.

Mengibaratkan polemik politik bagai kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Anwar Abbas mengingatkan bahwa percikan api masalah yang dibiarkan berseliweran akan dengan mudah menyambar ke mana-mana dan mengganggu ketenangan hidup masyarakat. Ia meminta pemerintah menerapkan prinsip "padamkan api selagi kecil" melalui jalur hukum yang berlaku secara adil.

“Selesaikan masalahnya secepatnya dan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Padamkan api selagi kecil sebab kalau sudah besar maka tentu akan sulit memadamkannya seperti karhutla,” tegas Buya Anwar Abbas kepada tvMu, Jumat (6/11).

Lebih jauh, ia menyoroti dampak sosial yang sangat destruktif jika masalah politik ini tidak segera diselesaikan. Menurutnya, konflik yang berlarut-larut berpotensi membelah masyarakat ke dalam kubu-kubu yang saling memusuhi. Jika pembelahan ini bertransformasi menjadi kebencian permanen yang melahirkan sekat "kami" dan "mereka", kepercayaan publik terhadap pemerintah akan hancur dan membuat posisi negara semakin rapuh.

Dari kacamata ekonomi, ketidakpastian politik membawa efek domino yang langsung memukul hajat hidup orang banyak. Stabilitas yang terganggu akan membuat iklim investasi lesu dan menciptakan ketakutan di pasar keuangan.

“Bila ketidakpastian politik terus berlangsung apalagi sampai berlarut-larut maka kehidupan ekonomi masyarakat tentu akan semakin bermasalah karena para investor tidak akan mau berinvestasi, lapangan kerja tentu akan mengecil, rupiah tentu akan melemah,” jelasnya merinci dampak sistemik yang membayangi.

Selain investasi dan nilai tukar mata uang yang merosot, Anwar Abbas juga mengingatkan adanya ancaman inflasi. Harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat dipastikan akan meroket seiring dengan membengkaknya biaya distribusi dan tingginya risiko keamanan pasar.

Sebagai penutup, ia mengingatkan pemerintah untuk tidak meremehkan situasi ini. Jika tidak segera dikendalikan, Indonesia bisa terseret ke dalam tiga jurang krisis sekaligus yang saling berjalin berkelindan, yakni krisis sosial, krisis ekonomi, dan krisis politik, dengan biaya pemulihan yang sangat mahal dan sulit diatasi. (Fachri)