Haedar Nashir: Etos Kemajuan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Harus Jadi Fondasi Peradaban Damai

Haedar Nashir: Etos Kemajuan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Harus Jadi Fondasi Peradaban Damai
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar saat memberikan amanat pada Resepsi Milad ke-109 PP ‘Aisyiyah di Convention Hall Walidah, UnIsa Yogyakarta, Selasa (19/5/2026. Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya menjaga dan mewariskan etos kemajuan sebagai ruh gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam membangun peradaban yang damai, modern, dan berkeadilan.

Pesan tersebut disampaikan Haedar saat memberikan amanat pada Resepsi Milad ke-109 Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah di Convention Hall Walidah, Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Selasa (19/5/2026).

Menurut Haedar, dunia saat ini menghadapi persoalan yang semakin kompleks sehingga diperlukan sikap modernitas tengahan atau wasathiyah, yakni semangat kemajuan yang tetap berkarakter elegan, berimbang, dan tidak ekstrem.

“Masyarakat berkembang dari level budaya, ekosistem, dan kualitas. Mereka yang primitif kemudian menuju kepada masyarakat yang berkeadaban tinggi, yang mana dari situ ada perubahan kehidupan dari pola hidup nomaden menjadi modern,” ujar Haedar saat mengutip pemikiran Ibnu Khaldun.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan masyarakat menuju kemajuan merupakan bagian dari sunatullah atau hukum alam. Karena itu, warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah diminta terus membangun pola pikir unggul dan berkemajuan.

Dalam amanatnya, Haedar juga menekankan pentingnya penguatan budaya sebagai fondasi peradaban. Menurutnya, terdapat tujuh unsur utama yang harus diperkuat, yakni bahasa, kesenian, organisasi sosial, sistem pendidikan dan pengetahuan, teknologi, ekonomi, serta sistem religi atau pandangan keagamaan.

Seluruh unsur tersebut, lanjut Haedar, harus didorong dengan semangat fastabiqul khairat atau berlomba dalam kebaikan sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an.

“Maka pemikiran untuk unggul dan maju ini sudah didobrak sejak zaman Ahmad Dahlan dan Siti Walidah,” katanya.

Haedar turut menyoroti kondisi global yang masih diwarnai konflik dan peperangan. Ia menyebut situasi tersebut sebagai “lorong buntu kemodernan” karena bertentangan dengan cita-cita peradaban manusia yang seharusnya semakin maju dan damai.

“Kondisi perang saat ini tentunya menjadi lorong buntu kemodernan. Karena setelah Perang Dunia I dan II, mestinya umat manusia tidak lagi mengulang tragedi perang,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia, terus menyuarakan pesan perdamaian agar konflik global dapat segera diakhiri.

Sejalan dengan tema Milad ke-109 ‘Aisyiyah, “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, Haedar menegaskan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus terus bersinergi dalam mengadvokasi isu kemanusiaan global serta membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan dunia.

“Pikiran-pikiran besar di persyarikatan itu harus terus dilakukan, supaya apa yang dipikirkan tidak sebatas awang-awang semata dan kita perlu melakukan ini bersama-sama karena landasan kita ada pada kolektivitas sistem,” pungkasnya.

Milad ke-109 ‘Aisyiyah menjadi momentum mempertegas peran organisasi perempuan Islam berkemajuan dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, serta dakwah kemanusiaan untuk mendukung terciptanya perdamaian dan kemajuan peradaban dunia.