Makroen Sanjaya: Penilaian Soeharto untuk Gelar Pahlawan Nasional Harus Komprehensif

Makroen Sanjaya: Penilaian Soeharto untuk Gelar Pahlawan Nasional Harus Komprehensif
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Makroen Sanjaya dalam program Sapa Indonesia Kompas TV, Ahad (9/11). Foto Tangkap layar YouTube Kompas TV.

TVMU.TV - Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, dinilai tidak bisa dilakukan secara terburu-buru atau parsial. Diperlukan kajian komprehensif untuk menilai kontribusinya terhadap bangsa.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Makroen Sanjaya dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (9/11/2025).

“Kami menilai sosoknya secara komprehensif, tidak bisa sepotong-sepotong. Sejak zaman revolusi kemerdekaan, beliau sudah memberikan kontribusi besar bagi bangsa,” ujar Makroen.

Makroen menilai, kiprah Soeharto sudah terlihat sejak masa awal revolusi. Ia menyebut peran penting Soeharto dalam menanggulangi kudeta kelompok kiri pada 1946 serta kepemimpinannya dalam Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta.

“Ketika itu Pak Harto tampil sebagai tokoh yang mampu menjaga keutuhan negara. Serangan Umum 1 Maret menjadi bukti peran strategis beliau dalam mempertahankan kemerdekaan,” katanya.

Selain peran militer, Makroen juga menyoroti capaian Soeharto dalam bidang pembangunan nasional yang mengubah wajah Indonesia di mata dunia.

“Beliau membawa bangsa ini pada masa swasembada pangan dan diakui secara internasional, bahkan berpidato di forum FAO sebagai bukti pengakuan dunia terhadap Indonesia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Makroen menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pemimpinnya.

“Dalam filosofi Jawa ada istilah mikul ndhuwur, mendem njero. Tidak ada manusia yang sempurna, tapi kalau kita hanya mencari kesalahan masa lalu, bangsa ini tidak akan maju. Sejarah itu cermin pembelajaran, tapi arah kita tetap ke depan,” pungkasnya.