Mendikdasmen Dorong Deep Learning untuk Bangun Generasi Berpikir Kritis
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, menilai persoalan mendasar dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia bukan terletak pada regulasi atau kurikulum, melainkan pada budaya dan cara pandang para pelaku pendidikan.
Pandangan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam siniar Lensamu yang ditayangkan Muhammadiyah Channel pada Kamis (4/6/2026). Menurutnya, perubahan kebijakan pendidikan tidak akan memberikan dampak signifikan apabila tidak diikuti perubahan pola pikir dan budaya belajar.
“Problem kita sebenarnya dalam penyelenggaraan pendidikan itu adalah problem budaya. Regulasi itu mudah diubah, tetapi kalau mindset-nya tidak berubah, tentu perilakunya tidak berubah, kebudayaannya juga enggak berubah,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga bertujuan membangun karakter, peradaban, dan kepribadian bangsa. Karena itu, transformasi pendidikan harus dimulai dari pembentukan worldview atau cara pandang yang kemudian tercermin dalam kebiasaan belajar yang lebih bermakna.
Dalam konteks tersebut, Abdul Mu’ti mendorong penerapan pendekatan deep learning sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Menurutnya, praktik pembelajaran yang selama ini dominan masih berada pada level surface learning, yakni proses belajar yang hanya berorientasi pada hafalan dan pencapaian nilai ujian.
“Surface level processing itu belajar yang reproduktif. Tadi diajarkan begini, hafalkan, nanti keluar di ujian, itu surface level processing. Tapi kalau deep learning itu melibatkan proses dia berpikir, ‘Loh, saya dulu pemahaman saya begini, kok ada begini?’, ada proses di situ,” jelasnya.
Abdul Mu’ti menerangkan bahwa deep learning mendorong peserta didik untuk memahami pengetahuan secara lebih mendalam melalui proses berpikir kritis, refleksi, analisis, dan pemaknaan. Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mengetahui suatu informasi, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan berbagai persoalan dalam kehidupan nyata.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, fasilitas sekolah, atau pembaruan kurikulum, tetapi juga oleh kemampuan guru dan peserta didik dalam membangun proses pembelajaran yang bermakna.
Selain itu, Abdul Mu’ti menyoroti masih adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang selama ini berkembang dalam dunia pendidikan. Ia menilai pemisahan tersebut sudah tidak relevan karena kedua bidang ilmu memiliki hubungan yang saling melengkapi.
Sebagai contoh, ilmu matematika dapat diterapkan dalam berbagai kebutuhan keagamaan, seperti menghitung arah kiblat maupun pembagian waris. Hal itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Abdul Mu’ti menyebut pendekatan tersebut sejalan dengan pemikiran pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang menekankan pentingnya menghubungkan ilmu dengan realitas sosial dan kebutuhan masyarakat.
“Kalau orang mempelajari sesuatu dan tidak mengontekstualisasikan dengan realitas, ilmu menjadi tidak punya makna. Itu kan deep learning ala K.H. Ahmad Dahlan, langsung praktikal,” pungkasnya.
Melalui transformasi budaya belajar tersebut, Abdul Mu’ti berharap pendidikan Indonesia mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memahami tujuan belajar, mampu memecahkan persoalan kehidupan, serta berkontribusi dalam membangun peradaban bangsa di masa depan.