Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Mojokerto, Gunakan Teknologi Italia dan Target Operasi 2028

Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Mojokerto, Gunakan Teknologi Italia dan Target Operasi 2028
Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy di Kantor PWM Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (18/4). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berencana membangun pabrik infus di Mojokerto, Jawa Timur, dengan menggunakan teknologi dan peralatan dari Italia. Proyek ini ditargetkan mulai dibangun pada Mei 2026 dan beroperasi penuh pada 2028 sebagai bagian dari penguatan kemandirian sektor kesehatan di lingkungan Muhammadiyah.

Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, mengatakan pemilihan teknologi Italia didasarkan pada kualitas dan ketahanan yang dinilai lebih unggul dibandingkan alternatif lainnya. Pernyataan itu disampaikan saat berada di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (18/4).

“Daripada membeli dari luar, lebih baik kita produksi sendiri agar bisa menekan biaya operasional rumah sakit Muhammadiyah. Kita ingin membangun sistem close loop di seluruh amal usaha,” ujar Muhadjir.

Pabrik ini tidak hanya akan memproduksi cairan infus, tetapi juga alat kesehatan seperti jarum medis dan perlengkapan sekali pakai lainnya. Namun, untuk tahap awal, produksi belum mencakup obat-obatan.

Muhadjir menjelaskan, pembangunan pabrik tersebut merupakan respons atas tingginya kebutuhan alat kesehatan di lingkungan Muhammadiyah yang saat ini mengelola sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 400 klinik di seluruh Indonesia. Dengan produksi mandiri, diharapkan biaya operasional layanan kesehatan dapat ditekan secara signifikan.

Dari sisi pembiayaan, proyek ini akan menggunakan skema investasi berbasis saham yang melibatkan jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA). Muhadjir mengakui kebutuhan investasi cukup besar, terutama karena penggunaan teknologi impor.

“Teknologinya langsung dari Italia. Walaupun mahal, daya tahannya tinggi. Dari sisi kemasan juga lebih baik, sehingga berdampak pada efisiensi operasional,” jelasnya.

Meski mengadopsi teknologi berbiaya tinggi, Muhammadiyah menargetkan produk infus yang dihasilkan tetap memiliki harga kompetitif. Hal ini sejalan dengan orientasi bisnis persyarikatan yang menekankan kemaslahatan.

“Kita sudah hitung dengan matang agar harga tetap lebih terjangkau. Tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” tambah Muhadjir.

Pembangunan pabrik ditargetkan dimulai pada akhir Mei 2026, rampung sebelum pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-49 pada 2027, dan mulai beroperasi secara penuh pada 2028. Proyek ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat industri alat kesehatan nasional sekaligus meningkatkan kemandirian layanan kesehatan berbasis organisasi.