Puasa sebagai Ibadah Pendidikan, Ini Penjelasan Abdul Mu’ti

Puasa sebagai Ibadah Pendidikan, Ini Penjelasan Abdul Mu’ti
Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema ‘Puasa sebagai Ibadah Pendidikan’ yang disiarkan di tvMu, Ahad (22/2).

TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan bahwa puasa Ramadan bukan sekadar ibadah ritual, melainkan proses pendidikan yang membentuk manusia bertakwa secara bertahap dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikannya dalam program Jendela Ramadan bertema “Puasa sebagai Ibadah Pendidikan” yang disiarkan di tvMu, Ahad (22/2).

Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa puasa memiliki dimensi tarbawi atau pendidikan. Ia mengutip pandangan ulama dalam tafsir yang menyebut puasa sebagai sekolah pembentukan takwa.

“Imam Syerozi dalam tafsir Al-Amthal menyebut bahwa puasa itu adalah ibadah tutarbawiyah madrasatun litaqwa. Puasa itu adalah ibadah pendidikan dan sekolah atau pembelajaran agar kita menjadi manusia yang bertakwa,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia menambahkan bahwa konsep takwa dalam Al-Qur’an dipahami sebagai proses yang terus berkembang, bukan capaian instan.

“Bertakwa kalau kita pahami dari sisi redaksinya itu kan disebutkan dalam bentuk Fiil Mutore. Maknanya bertakwa itu proses becoming, proses yang terus secara gradual, secara berkesinambungan,” jelasnya.

Menurutnya, dalam perspektif pendidikan, frasa la’allakum tattaqun menunjukkan tujuan yang jelas atau goal purposiveness. Artinya, setiap aktivitas dalam puasa memiliki arah yang terukur, yakni membentuk pribadi bertakwa.

“Kalau kita menggunakan pendekatan pendidikan, la’an lakum tatakun itu bisa dimaknai sebagai penyebutan tujuan atau goal purposiveness. Kita melaksanakan sesuatu yang arahnya sudah jelas,” katanya.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa menahan lapar dan dahaga bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter.

“Kita tidak makan, tidak minum, itu tidak berhenti pada tidak makan dan tidak minumnya. Tapi semuanya adalah dalam rangka kita menjadi manusia bertakwa,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pengendalian diri, termasuk menahan amarah, merupakan bagian dari pendidikan spiritual selama Ramadan.

“Kemudian kita menahan diri untuk tidak mudah marah, itu juga bagian dari proses pendidikan agar kita menjadi manusia yang bertakwa,” lanjutnya.

Seluruh rangkaian ibadah Ramadan, seperti salat tarawih, bangun malam, sahur, dan amalan lainnya, menurut Abdul Mu’ti, adalah kurikulum pendidikan spiritual yang bermuara pada peningkatan kualitas takwa.

“Semua yang kita laksanakan dalam rangkaian ibadah puasa Ramadan itu merupakan proses. Kita sholat taraweh, bangun di malam hari, makan sahur dan berbagai amalan lain, itu semuanya muaranya agar kita menjadi manusia bertakwa,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa hasil dari “pendidikan” Ramadan tersebut berbeda-beda pada setiap individu, tergantung kesungguhan dan kualitas pelaksanaannya.

“Tingkatan takwa kita itu juga berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Cara manusia berpuasa juga berbeda-beda satu dengan yang lainnya,” ujarnya.

Abdul Mu’ti menggambarkan bahwa ada orang yang berpuasa hanya karena faktor eksternal, seperti dorongan orang tua atau lingkungan sosial, dan ada pula yang menjalankannya dengan kesadaran dan kedewasaan spiritual.

“Dalam pengertian bahwa ada orang yang mungkin berpuasanya itu seperti anak sekolah dasar. Ya puasa yang mungkin lebih banyak karena disuruh oleh orang tua, puasa karena tidak enak sama masyarakat, atau sering kita sebut puasa karena faktor-faktor eksternal,” jelasnya.

Sebaliknya, ada pula yang berpuasa dengan pemahaman dan kesadaran mendalam.

“Ada yang berpuasa mungkin tingkatnya anak SMP atau SMA, yang dia sudah mulai mengerti punya kesadaran, punya kedewasaan dalam menunaikan ibadah puasa itu. Dia berpuasa dengan dewasa karena sadar betul mengenai arti pentingnya puasa dan bagaimana agar puasanya diterima,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa dalam perspektif pendidikan, setiap proses akan menghasilkan output sesuai kualitas usaha yang dilakukan.

“Kalau kita kajian dan mendidikan tentu ada proses, ada outcome atau produk atau output. Karena itu maka kalau proses kita berpuasa itu baik, sempurna maka insya Allah hasilnya akan sempurna,” katanya.

Di akhir penyampaiannya, Abdul Mu’ti mengajak umat Islam untuk terus meningkatkan kualitas puasa agar mencapai derajat kelulusan sebagai insan bertakwa.

“Dan oleh karena itu maka marilah kita berusaha terus meningkatkan kualitas puasa kita, memperbaiki niat kita, mudah-mudahan puasa kita diterima Allah SWT. Dan kita menyempurnakan puasa kita ini, selesai nanti lulus graduation sebagai manusia yang bertakwa,” pungkasnya.