Syafiq Mughni: Pemimpin Berintegritas Kunci Hadapi Disrupsi Global dan Krisis Moral

Syafiq Mughni: Pemimpin Berintegritas Kunci Hadapi Disrupsi Global dan Krisis Moral
Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XVI yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI di ASN Corporate University, Rabu (10/6). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menegaskan bahwa kepemimpinan yang berintegritas menjadi kebutuhan mendesak dalam menghadapi berbagai tantangan global abad ke-21, mulai dari disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI), krisis moral, ketimpangan sosial, hingga krisis lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Syafiq saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XVI yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI di ASN Corporate University, Rabu (10/6).

Menurut Syafiq, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga harus memiliki integritas yang kuat sebagai fondasi membangun kepercayaan publik.

“Integritas merujuk pada konsistensi antara ucapan dan tindakan, kejujuran, serta komitmen terhadap prinsip-prinsip moral dan etika yang tinggi,” ujar Syafiq.

Ia menjelaskan, era global saat ini ditandai dengan perubahan yang berlangsung sangat cepat akibat kemajuan teknologi, keterhubungan dunia yang semakin tinggi, serta dinamika sosial dan ekonomi yang kompleks. Kondisi tersebut menuntut hadirnya pemimpin yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan arah moral.

Syafiq menyebut setidaknya terdapat empat tantangan besar yang harus dihadapi para pemimpin saat ini, yakni disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan, krisis makna dan moral, ketimpangan global serta krisis ekologi, hingga meningkatnya polarisasi akibat radikalisme agama dan sekularisme ekstrem.

“Pemimpin harus mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi secara etis dan produktif,” katanya.

Dalam perspektif Muhammadiyah, lanjut Syafiq, penguatan kepemimpinan dapat dilakukan melalui konsep Prophetic Leadership atau kepemimpinan profetik yang berlandaskan nilai-nilai tauhid dan ajaran Islam Berkemajuan.

Konsep tersebut melahirkan lima karakter utama yang harus dimiliki seorang pemimpin, yakni integritas dan kejujuran, semangat literasi dan penguasaan ilmu pengetahuan, persaudaraan universal, etos kemandirian dan kerja keras, serta komitmen terhadap keadilan dan kesetaraan.

“Tauhid membentuk pribadi yang selalu berpihak pada kebenaran dan kebaikan, konsisten antara ucapan dan realitas. Ini adalah fondasi kepercayaan yang penting dalam jejaring global,” ujarnya.

Selain itu, Muhammadiyah juga mendorong penguatan tradisi literasi dan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai bekal menghadapi globalisasi yang semakin kompetitif.

“Muhammadiyah mendorong tradisi literasi dan penguasaan IPTEK sebagai kunci menghadapi globalisasi,” kata Syafiq.

Ia menambahkan, rekonstruksi akidah Islam pada abad ke-21 perlu diarahkan pada penguatan tauhid yang bersifat transformatif, yakni mampu mendorong perubahan sosial dan peradaban yang lebih baik.

Menurutnya, akidah Islam berkemajuan tidak hanya berbicara soal keyakinan, tetapi juga harus melahirkan sikap anti-kekerasan, menjunjung tinggi martabat manusia, berpihak kepada kelompok lemah, peduli lingkungan, serta memiliki orientasi masa depan.

“Akidah bukan hanya doktrin pasif, melainkan landasan etis dan praksis kehidupan sosial dan peradaban,” tegasnya.

Melalui penguatan nilai-nilai tersebut, Syafiq berharap lahir pemimpin-pemimpin Indonesia yang jujur, berilmu, inklusif, mandiri, adil, dan memiliki visi jangka panjang dalam membangun bangsa.

“Kepemimpinan yang berintegritas dalam menghadapi tantangan global merupakan keniscayaan,” sebutnya.

Syafiq menegaskan, kepemimpinan yang berlandaskan tauhid transformatif dan Islam Berkemajuan diharapkan mampu membawa umat dan bangsa menuju peradaban yang unggul, berkeadaban, serta berkemajuan sesuai cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.