Syafiq Mughni Sebut Dunia Islam Butuh Kepemimpinan Berbasis Ilmu dan Moral

Syafiq Mughni Sebut Dunia Islam Butuh Kepemimpinan Berbasis Ilmu dan Moral
Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni dalam Seminar Internasional bertajuk “Kiprah dan Pemikiran Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei RA” yang diselenggarakan STAI Sadra di Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki pandangan keagamaan yang terbuka karena tidak terikat pada satu mazhab tertentu. Sikap tersebut dinilai memberi keleluasaan dalam memandang berbagai fenomena keagamaan, termasuk polemik Sunni dan Syiah yang masih berkembang di dunia Islam.

Hal itu disampaikan Syafiq dalam Seminar Internasional bertajuk “Kiprah dan Pemikiran Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei RA” yang diselenggarakan STAI Sadra di Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2026).

Menurut Syafiq, pendekatan Muhammadiyah terhadap perbedaan mazhab bertujuan menjaga persatuan umat Islam agar tetap menjadi kekuatan besar yang mampu menghadirkan perdamaian dan keadilan global.

“Kita merindukan Islam ini menjadi sebuah kekuatan, yang tentunya tidak kekuatan yang eksklusif. Bukan kekuatan untuk dirinya sendiri, tetapi kekuatan untuk membangun dunia yang lebih aman dan lebih berkeadilan,” ujarnya.

Guru Besar Sejarah Islam itu menilai dunia saat ini membutuhkan kekuatan moral dan peradaban yang mampu menjawab berbagai persoalan kemanusiaan tanpa memandang latar belakang agama maupun afiliasi kelompok.

“Itu tentu sangat dibutuhkan oleh semua umat manusia tanpa pandang agama, tanpa pandang afiliasi atau aliran pemikiran di dalam Islam itu,” lanjutnya.

Dalam forum tersebut, Syafiq juga menyinggung Revolusi Iran pada akhir 1970-an yang menurutnya pernah membangkitkan optimisme dunia Islam terhadap kebangkitan peradaban Islam modern. Ia menyebut antusiasme umat Islam saat itu tidak hanya berkaitan dengan Iran, tetapi juga dipengaruhi oleh resistensi terhadap dominasi Amerika Serikat di sejumlah negara Muslim.

Selain membahas isu persatuan umat, Syafiq turut menyoroti sosok Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang dinilainya memiliki kapasitas kepemimpinan yang lengkap, mulai dari intelektual, filsafat, ideologi, hingga keagamaan.

“Kalau kita lihat sekarang ini di negara-negara itu kebanyakan mereka adalah politisi, atau mereka adalah orator karena pintar bicara saja kemudian terpilih menjadi presiden,” kata Syafiq.

Menurutnya, tantangan global yang semakin kompleks membutuhkan figur pemimpin yang tidak hanya populer secara politik, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu dan integritas moral.

Syafiq menilai kepemimpinan berbasis keilmuan menjadi penting di tengah fenomena politik modern yang kerap dipengaruhi kekuatan modal dan kepentingan ekonomi.

Di sisi lain, ia juga menyoroti sistem pemerintahan Republik Islam Iran yang dinilai tidak memisahkan agama dari kehidupan politik. Menurutnya, agama dapat menjadi fondasi moral dalam pembangunan bangsa dan bukan penghambat kemajuan negara.

Seminar internasional tersebut dihadiri akademisi, tokoh agama, serta peserta dari berbagai lembaga pendidikan Islam untuk membahas pemikiran dan pengaruh Ayatullah Ali Khamenei terhadap dinamika dunia Islam kontemporer.