Abdul Mu’ti: Puasa Melatih Kesabaran Reflektif, Bukan Sekadar Menahan Lapar

Abdul Mu’ti: Puasa Melatih Kesabaran Reflektif, Bukan Sekadar Menahan Lapar
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema “Puasa dan Kesabaran” yang disiarkan di tvMu, Selasa (24/2).

TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan bahwa puasa Ramadan merupakan latihan kesabaran yang bersifat reflektif dan membentuk karakter manusia bertakwa.

Hal itu disampaikannya dalam program Jendela Ramadan bertema “Puasa dan Kesabaran” yang disiarkan di tvMu, Selasa (24/2).

Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa puasa merupakan ibadah pendidikan (tutarbawiyah) yang bertujuan membentuk manusia bertakwa.

“Puasa itu adalah ibadah tutarbawiyah, ibadah pendidikan yang merupakan proses agar kita menjadi manusia yang bertakwa atau madrasatun li’taqwa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa secara bahasa, puasa bermakna menahan diri.

“Asyiam secara bahasa artinya al-imsaku wal-kafu anisya’i, kita menahan diri dan mencukupkan diri terhadap sesuatu,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, dalam sejumlah tafsir dan hadis disebutkan bahwa puasa memiliki keterkaitan erat dengan kesabaran.

“Asyiamu nisfus sobri. Puasa itu adalah sebagian dari sabar,” ungkap Abdul Mu’ti.

Namun, ia menekankan bahwa kesabaran dalam konteks puasa bukanlah sikap pasif, melainkan kesadaran aktif yang reflektif.

“Tapi kesabaran itu bukanlah kesabaran yang bersifat pasif, tetapi kesabaran yang bersifat reflektif. Sehingga sabar dengan sadar,” jelasnya.

Menurut Abdul Mu’ti, kesabaran memiliki empat aspek utama. Pertama, tidak tergesa-gesa dalam bertindak.

“Sabar itu alon-alon waton klakon. Tidak tergesa-gesa. The state of not being hasty,” ujarnya.

Kedua, menerima setiap keadaan yang terjadi, termasuk saat menghadapi musibah. Ia menekankan bahwa musibah tidak selalu bermakna penderitaan, tetapi juga bisa berupa keberhasilan atau kesuksesan.

Ketiga, melakukan refleksi diri untuk memahami sebab terjadinya suatu peristiwa, apakah akibat perbuatan sendiri atau faktor di luar kendali.

Keempat, merancang langkah perbaikan agar menjadi pribadi yang lebih baik di tengah berbagai situasi.

“Itulah empat dimensi sabar yang bisa kita jadikan sebagai pemaknaan dari sabar dan hubungannya dengan puasa,” katanya.

Abdul Mu’ti juga mengutip ayat Al-Qur’an tentang pentingnya sabar dan salat sebagai penopang kehidupan spiritual.

“Wasta’inu bisobri wasolah innalloha ma’asobirin. Minta tolonglah kamu kepada Allah dengan sabar dan sholat karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar,” ujarnya.

Ia berharap puasa menjadi momentum pembentukan pribadi yang sabar, optimistis, dan mampu bersyukur dalam setiap keadaan.

“Mudah-mudahan dengan berpuasa kita menjadi orang yang bisa bersabar. Bisa memiliki kesempatan dan waktu untuk refleksi diri dan kemudian menerima apapun keadaan yang terjadi pada kita dengan penuh tanda syukur karena apapun yang menimpa kita itulah yang terbaik dari Allah,” tuturnya.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa di balik setiap kesulitan terdapat harapan masa depan yang lebih baik.

“Dan karena itu maka kita harus se-optimistis dengan sabar itu bahwa di tengah kesulitan itu ada masa depan yang lebih baik lagi,” pungkasnya.