Dadang Kahmad: Muhammadiyah Harus Bertransformasi di Era AI agar Tidak Ditinggalkan Zaman

Dadang Kahmad: Muhammadiyah Harus Bertransformasi di Era AI agar Tidak Ditinggalkan Zaman
Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Jumat malam (23/1). Foto: Tangkap layar YouTube tvMu Channel.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menegaskan bahwa percepatan perubahan global akibat perkembangan teknologi, khususnya era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menuntut organisasi keagamaan untuk segera bertransformasi. Tanpa adaptasi yang selaras dengan zaman, ormas keagamaan berisiko ditinggalkan generasi muda.

Pernyataan tersebut disampaikan Dadang dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Jumat malam (23/1).

Dia menjelaskan bahwa laju perubahan di era AI berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan era konvensional maupun mekanikal, yang sebelumnya membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun.

Menurut Dadang, tantangan perubahan sejatinya telah disadari oleh pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan, yang menekankan bahwa setiap zaman memiliki karakter berbeda sehingga umat dituntut untuk terus beradaptasi.

“Muhammadiyah yang kita hadapi sekarang ini itu sangat luar biasa. Kalau tidak ada transformasi yang sesuai dengan zaman kita akan ditinggalkan oleh orang,” ungkap Dadang.

Ia menekankan bahwa tantangan tersebut tidak hanya dihadapi Muhammadiyah, tetapi juga organisasi keagamaan mapan lainnya seperti Nahdlatul Ulama (NU), Persis, dan ormas sejenis. Dadang mencontohkan hasil temuan di wilayah Bekasi yang menunjukkan sekitar 70 persen pelajar tingkat SMP dan SMA tidak mengenal ormas-ormas keagamaan tersebut.

Menurutnya, kondisi itu bukan karena generasi muda tidak peduli terhadap agama, melainkan akibat pergeseran pola konsumsi informasi. Anak muda lebih mengenal figur-figur keagamaan populer di media sosial dibandingkan institusi keagamaan formal.

Sebagai Guru Besar Sosiologi Agama, Dadang menilai fenomena ini harus direspons secara serius. Ia kembali mengingatkan pesan Kiai Ahmad Dahlan agar umat menghadapi perubahan dengan ilmu pengetahuan.

“Kiai Dahlan itu dahulu memprediksi akan ada zaman ilmu pengetahuan. Dan sekarang itu adalah zaman ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa. Kalau agama tidak bisa mengimbangi kemajuan pengetahuan, agama akan ditinggalkan,” katanya.

Dadang juga menyinggung fenomena di negara-negara Barat, di mana agama semakin ditinggalkan karena dianggap tidak relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Gejala serupa, menurutnya, mulai muncul di Indonesia.

Ia merujuk pada penelitian mahasiswa doktoral UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang menemukan bahwa remaja menempatkan agama pada urutan keenam dalam daftar hal yang dianggap penting dalam kehidupan mereka.

Selain itu, aktivitas dan layanan keagamaan yang bersifat luring dinilai semakin sepi peminat. Bahkan, minat generasi muda terhadap ritual ibadah seperti salat berjemaah di masjid juga menunjukkan kecenderungan menurun.

Atas dasar itu, Dadang menegaskan bahwa penguatan literasi digital bagi ormas keagamaan menjadi kebutuhan mendesak. Ia menilai sikap kontra produktif atau penolakan terhadap kemajuan teknologi digital sudah tidak relevan dengan tantangan zaman saat ini.