Salmah Orbayinah Apresiasi Napak Tilas Sejarah, Sebut Peran Progresif Perempuan Sejak Era KH Ahmad Dahlan

Salmah Orbayinah Apresiasi Napak Tilas Sejarah, Sebut Peran Progresif Perempuan Sejak Era KH Ahmad Dahlan
Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah saat menerima kunjungan sejarah PWM DKI Jakarta di Yogyakarta, Jumat (23/1). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menegaskan bahwa memahami sejarah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah merupakan fondasi penting bagi penguatan gerakan dakwah yang berkemajuan.

Apresiasi ini disampaikannya terhadap program napak tilas yang digagas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta, sebagai upaya mengenalkan akar sejarah persyarikatan kepada kader, khususnya perempuan di Yogyakarta, Jumat (23/1).

“Program ini patut ditiru. Ibu-ibu tidak hanya mendengar cerita, tetapi diajak langsung napak tilas perjuangan Kiai Dahlan dan Bu Nyai,” ujar Salmah.

Salmah menyoroti peran penting kawasan Kauman sebagai episentrum kelahiran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Ia mengingatkan bahwa di situlah musala putri pertama didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan, yang sejak awal menjadi ruang pemberdayaan perempuan yang progresif.

“Di musala putri itu, perempuan tidak hanya belajar mengaji. Bu Nyai juga mengajarkan keterampilan, pidato, hingga ekonomi. Sejak awal, Aisyiyah sudah sangat progresif,” jelasnya.

Bukti sejarah lainnya yang ia sebutkan adalah makam Nyai Ahmad Dahlan yang terawat baik dan TK Aisyiyah Kauman, yang didirikan Nyai Ahmad Dahlan dan masih mempertahankan bangunan heritage-nya.

“Di dalam TK ‘Aisyiyah Kauman terdapat bangunan yang menjadi bagian dari heritage dan tidak boleh diubah. Ini menunjukkan bahwa sejarah harus dijaga dan dirawat,” katanya.

Ia menekankan bahwa pendirian ‘Aisyiyah adalah bukti nyata keberpihakan Kiai Dahlan pada pemuliaan perempuan.

“Perempuan tidak dikeluarkan dari Muhammadiyah, justru diberi wadah yang sangat terhormat bernama ‘Aisyiyah,” tegas Salmah.

Salmah juga membagikan kisah tentang pendekatan dakwah Kiai Dahlan yang inklusif dan mandiri. Kiai Dahlan diketahui berdakwah sambil berdagang batik, dan mengatur pengajian terpisah untuk juragan dan buruh agar semua kalangan mendapat akses yang sama.

“Juragan dan buruh sama-sama difasilitasi pengajian. Ini menunjukkan dakwah Muhammadiyah sejak awal bersifat inklusif,” ujarnya.

Menutup amanatnya, Salmah menyampaikan bahwa ‘Aisyiyah harus tetap menjadi ruang pengabdian yang membahagiakan bagi perempuan, melanjutkan warisan perjuangan yang telah diletakkan oleh para pendirinya.